Dunia film animasi Indonesia kembali menghadirkan karya yang menarik perhatian melalui film “Pelangi di Mars” . Di balik visual futuristik dan cerita yang menyentuh, terdapat sosok pengisi suara yang berperan penting dalam menghidupkan karakter dalam film tersebut. Salah satunya adalah Bimo Kusumo , atau yang lebih dikenal sebagai Bimoky , yang dipercaya mengisi suara karakter robot bernama Batik .

Dalam film ini, Batik bukan sekadar robot biasa. Karakter tersebut digambarkan sebagai sosok pelindung bagi tokoh utama bernama Pelangi. Menariknya, Bimo membangun karakter Batik dengan pendekatan yang sangat personal, yakni dengan memposisikan robot tersebut seperti seorang ayah yang melindungi anaknya.

Saat ditemui dalam acara pemutaran film intim “Pelangi di Mars” di Jakarta , Bimo mengungkapkan bahwa ia mencoba membawa pengalaman pribadinya sebagai seorang ayah ke dalam karakter Batik. Baginya, meskipun Batik digambarkan sebagai robot, emosi yang ditampilkan tetap harus terasa manusiawi dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Dari memandang Batik sebagai sosok pelindungnya Pelangi, kalau mau di-relate-kan di dunia nyata ya seperti orang tua bagi anak-anak yang nanti menonton,” ujar Bimo.

Pendekatan tersebut membuat karakter Batik tidak hanya tampil sebagai mesin atau teknologi futuristik semata. Melalui suara yang ia bawakan, Bimo berusaha menghadirkan sosok yang hangat, kuat, sekaligus protektif—karakter yang sering ditemui dalam hubungan antara orang tua dan anak.

Menghidupkan Robot dengan Emosi Manusia

Bagi Bimo, membangun karakter suara robot bukanlah perkara mudah. Ia harus memastikan bahwa Batik terdengar seperti robot, namun tetap memiliki emosi yang dapat dilihat penonton. Tantangan ini membuat proses pengisian suara menjadi cukup kompleks.

Ia menjelaskan bahwa dirinya harus memainkan berbagai variasi vokal agar suara Batik terdengar unik. Karakter robot tersebut digambarkan sebagai robot yang sudah mengalami kerusakan, sehingga suara yang dihasilkan harus memiliki tekstur tertentu.

Proses rekaman pun berlangsung cukup intens. Bimo mengaku harus menjalani pengambilan suara selama sekitar satu minggu penuh , bahkan dari pagi hingga malam hari.

“Totalnya dari suaranya sekitar seminggu. Tapi dari pagi sampai malam. Bahkan ada satu hari aku sempat menyerah karena dari pagi suara sudah serak banget,” ungkapnya.

Karakter Batik sendiri memiliki dasar suara yang dalam atau suara berat. Namun, Bimo tidak bisa hanya menggunakan suara berat secara konstan. Ia harus menyesuaikan intonasi agar karakter tersebut tetap terasa hidup dan tidak monoton.

“Basic-nya deep voice, tapi turunannya banyak. Jadi nggak bisa terlalu deep, nggak bisa terlalu naik juga,” katanya.

Kondisi tersebut membuat suaranya beberapa kali mengalami kelelahan. Bahkan pada salah satu sesi rekaman, ia hampir menyerah karena suaranya sudah terlalu serak sejak pagi. Meski begitu, Bimo tetap berusaha menyelesaikan proses tersebut demi menghadirkan karakter Batik secara maksimal.

Membawa Pesan Keluarga dalam Film Fiksi Ilmiah

Di balik cerita yang berlatar dunia futuristik dan planet Mars, film “Pelangi di Mars” sebenarnya membawa pesan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu tentang hubungan keluarga.

Karakter Batik yang melindungi Pelangi menjadi simbol sosok orang tua yang selalu menjaga dan mendampingi anaknya dalam berbagai situasi. Bimo berharap penonton, terutama anak-anak dan keluarga, dapat merasakan kedekatan emosional tersebut saat menonton film ini.

Dengan pendekatan itu, Batik tidak hanya menjadi karakter robot, tetapi juga representasi kasih sayang dan tanggung jawab seorang orang tua.

Memperkenalkan Profesi Pengisi Suara

Keterlibatan Bimo dalam film ini juga menjadi momen penting untuk memperkenalkan profesi pengisi suara kepada masyarakat luas. Ia menilai bahwa peran pengisi suara sering kali tidak terlihat, padahal memiliki kontribusi besar dalam menghidupkan karakter animasi.

Melalui film “Pelangi di Mars”, Bimo berharap banyak orang semakin menyadari bahwa industri kreatif Indonesia memiliki beragam profesi yang menarik, termasuk di bidang pengisi suara.

Menurutnya, talenta-talenta di balik layar seperti pengisi suara juga layak mendapat perhatian karena mereka berperan penting dalam membangun kualitas sebuah film animasi.

Teknologi XR Jadi Warna Baru Film Indonesia

Selain dari sisi cerita dan pengisi suara, film “Pelangi di Mars” juga menghadirkan inovasi teknologi dalam proses produksinya. Film ini memanfaatkan extended reality (XR) yang menggabungkan elemen fiksi ilmiah, live action, dan visual virtual .

Bimo menilai penggunaan teknologi tersebut menunjukkan bahwa industri film Indonesia terus berkembang dan mampu mengeksplorasi berbagai pendekatan baru.

Selama ini, film nasional sering dibandingkan dengan produksi Hollywood yang memiliki teknologi lebih maju. Namun menurut Bimo, cara pandang tersebut perlu diubah.

“Yang terjadi kan kita selalu dibandingkan, ‘wah ini masih jauh sama Hollywood’. Mungkin pola pikir-nya bisa diubah, bahwa film Indonesia ternyata sudah sampai di tahap ini,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat dapat lebih menghargai proses kreatif yang dilakukan oleh para sineas lokal. Dengan dukungan dari penonton, karya-karya film Indonesia diyakini dapat terus berkembang dan menghadirkan inovasi yang lebih besar di masa depan.

Bimo pun optimistis bahwa keberanian sineas untuk bereksperimen dengan teknologi dan genre baru akan menjadi pemantik lahirnya karya-karya yang lebih kuat dan berkualitas.

“Kalau kita menghargai setiap proses dan karya yang lahir, harapannya ini bisa jadi pemantik untuk karya yang lebih bagus ke depan,” kata Bimo.

Melalui karakter Batik dalam film “Pelangi di Mars”, Bimo tidak hanya menghadirkan suara robot di layar, tetapi juga menyisipkan nilai emosional tentang keluarga, perlindungan, dan kasih sayang yang universal. Sebuah pengingat bahwa di balik teknologi canggih dan dunia futuristik, cerita tentang hubungan manusia tetap menjadi inti yang paling menyentuh bagi penonton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Kisah nyata Film Horor “Santet Segoro Pitu” ternyata berasal dari Keluarga asal Semarang

infojatengupdate.com, Semarang – Sebagian masyarakat Indonesia masih mempercayai dunia perdukunan. Bagi mereka,…