Di era digital, ponsel pintar dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak dan remaja. Banyak dari mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuka Instagram, TikTok, atau platform lain, baik untuk hiburan maupun berinteraksi dengan teman.
Meski terlihat biasa saja, penggunaan media sosial yang berlebihan ternyata bisa membawa sejumlah dampak psikologis bagi anak dan remaja. Psikolog Klinis Dewasa lulusan Magister Profesi Klinis Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, S.Psi., M.Psi., Psikolog , mengingatkan bahwa penggunaan yang tidak terkontrol dapat memicu berbagai masalah, mulai dari penurunan kepercayaan diri hingga gangguan tidur.
“Remaja bisa merasa tidak cukup menarik, tidak cukup populer, atau tidak cukup berhasil karena melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial,” ujar Teresa.
Berikut beberapa bahaya penggunaan media sosial pada anak dan remaja yang perlu diperhatikan.
1. Anak Mudah Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Salah satu dampak paling umum dari penggunaan media sosial adalah komunikasi sosial yang berlebihan . Anak atau remaja sering melihat unggahan orang lain yang terlihat sempurna—mulai dari penampilan, prestasi, hingga gaya hidup.
Padahal, sebagian besar konten di media sosial hanya menampilkan sisi terbaik seseorang , bukan kehidupan yang sebenarnya. Bagi remaja yang masih dalam proses mencari jati diri, hal ini bisa membuat mereka merasa kurang percaya diri.
Ketika anak mulai menilai dirinya berdasarkan jumlah suka, komentar, atau pengikut , rasa percaya diri mereka bisa menjadi tidak stabil.
Menurut Teresa, kondisi ini membuat harga diri bergantung pada validasi orang lain . Jika unggahan tidak mendapat respon yang diharapkan, anak bisa merasa tidak dihargai atau kurang populer.
3. Memicu FOMO (Takut Ketinggalan)
Bahaya lain dari media sosial adalah munculnya FOMO atau Fear of Missing Out , yaitu rasa takut ketinggalan atau tren terbaru.
Remaja sering merasa cemas jika tidak mengikuti perkembangan yang sedang viral atau tidak terlibat dalam percakapan digital bersama teman-temannya. Kondisi ini bisa membuat mereka terus-menerus memeriksa ponsel tanpa henti.
4. Mengganggu Kualitas Tidur
Banyak anak dan remaja yang masih bermain ponsel hingga larut malam. Kebiasaan ini dapat mengganggu pola tidur dan menurunkan kualitas istirahat .
Paparan layar sebelum tidur juga membuat otak tetap aktif sehingga anak sulit tidur. Akibatnya, mereka bisa merasa lelah, sulit fokus, dan kurang konsentrasi saat belajar keesokan harinya.
5. Anak Jadi Sulit Lepas dari Ponsel
Penggunaan media sosial secara terus-menerus juga dapat membuat anak terlalu bergantung pada ponsel . Tanpa disadari, waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, bermain di luar, atau berinteraksi langsung dengan keluarga justru habis di depan layar.
Jika tidak dikontrol, kebiasaan ini dapat mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak.
Peran Orang Tua Sangat Penting
Meski memiliki risiko, Teresa menegaskan bahwa media sosial tidak selalu berdampak negatif . Banyak remaja yang memanfaatkannya untuk belajar, mencari informasi, membangun komunitas, hingga mengekspresikan kreativitas.
Namun masalah muncul ketika penggunaannya tidak seimbang dan tidak terkontrol .
Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting untuk membantu anak menggunakan media sosial secara sehat dan bijak , misalnya dengan membatasi waktu penggunaan gawai, mengawasi aktivitas digital, serta mendorong anak melakukan aktivitas lain di dunia nyata.
Dengan pendampingan yang tepat, media sosial bisa menjadi alat yang bermanfaat , bukan justru membawa dampak buruk bagi perkembangan anak.





