Infojatengupdate.com – Prospek ekonomi dinilai negatif, Rupiah Melemah ke Level Rp17.000, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan dan menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada awal perdagangan Senin (9/3/2026). Pelemahan tersebut menjadi yang terburuk sepanjang sejarah dan melampaui level terendah saat krisis moneter 1998 maupun periode pandemi Covid-19.
Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah dibuka di posisi Rp17.019 per dolar AS atau melemah sekitar 0,56 persen dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang berada di level Rp16.925 per dolar AS. Posisi ini sekaligus mencatatkan rekor baru pelemahan rupiah setelah sebelumnya pada Maret 2020 sempat berada di kisaran Rp16.600 hingga Rp16.700 per dolar AS.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor domestik maupun global yang menekan kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.
Dalam risetnya, Ibrahim menyoroti salah satu faktor struktural yang menjadi perhatian investor yakni rendahnya rasio pajak Indonesia dalam satu dekade terakhir. Ia menyebut tax ratio Indonesia hanya berada di kisaran 9 hingga 10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Dalam satu dekade terakhir tax ratio Indonesia berada di kisaran 9 sampai 10 persen terhadap PDB. Bahkan angkanya cenderung menurun seperti yang terjadi tahun lalu dari 10,08 persen pada 2024 menjadi 9,31 persen pada 2025,” ujarnya.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati keputusan lembaga pemeringkat internasional yang menurunkan prospek ekonomi Indonesia menjadi negatif. Penilaian tersebut dinilai memicu kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan disiplin fiskal pemerintah dalam beberapa tahun ke depan.
Kekhawatiran tersebut turut dipengaruhi oleh besarnya belanja sosial pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan memerlukan anggaran sekitar 1,3 persen terhadap PDB sepanjang periode 2025 hingga 2029.
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh kondisi global yang tidak stabil. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terus meningkat dalam beberapa hari terakhir turut memicu volatilitas di pasar keuangan global.
Konflik tersebut menyebabkan harga minyak dunia mengalami kenaikan yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Situasi ini membuat bank sentral di berbagai negara cenderung berhati-hati dalam mengambil kebijakan pelonggaran suku bunga.
Di tengah ketidakpastian global tersebut, investor cenderung meningkatkan kepemilikan aset yang dianggap lebih aman atau safe haven seperti dolar AS. Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.
Sepanjang pekan ini, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.850 hingga Rp17.010 per dolar AS seiring masih kuatnya sentimen eksternal yang membayangi pasar keuangan global.







