Ilustras: Gambar Telepon, Tiktok/amrothman/pixabay.

Infojatengupdate.com  –   Setelah sempat diblokir selama hampir satu tahun, platform media sosial TikTok kembali dapat diakses di Albania. Berakhirnya larangan ini menyoroti rumitnya kebijakan perbankan sosial di negara yang tengah menangani ketegangan politik, sekaligus memunculkan kembali antara perlindungan keamanan dare dan potensi sensor pemerintah.

Larangan terhadap aplikasi video pendek milik perusahaan China tersebut terjadi tahun lalu, menyusul tragedi kematian seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun yang diduga berkaitan dengan perundungan berani. Pemerintah Albania saat itu memutuskan untuk memblokir TikTok secara nasional, dengan alasan melindungi anak-anak dari risiko konten berbahaya di internet.

Kini, pemerintah menyatakan TikTok telah memenuhi tuntutan mereka dengan memperketat sistem keamanan, termasuk penerapan filter bahasa dan konten. Perdana Menteri Albania, Edi Rama, mengatakan kepada Reuters bahwa tekanan dari larangan tersebut mendorong TikTok untuk bertindak lebih serius terhadap kekhawatiran pemerintah.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah menyebut TikTok telah menunjukkan itikad baik dan mengisyaratkan bahwa kekhawatiran awal mereka tidak sepenuhnya terbukti. Meski demikian, TikTok sendiri menolak memberikan komentar terkait keputusan tersebut.

Namun, pencabutan larangan ini tidak serta merta meredam kritik. Partai oposisi menilai pemblokiran TikTok sejak awal muatan politik, terutama karena kebijakan itu diterapkan hanya beberapa minggu sebelum pemilihan parlemen. Mereka menuduh pemerintah menggunakan larangan tersebut untuk membatasi ruang komunikasi dan mempengaruhi opini publik, meskipun tudingan itu tidak disertai bukti konkret.

Pemerintah dengan tegas menyatakan adanya kaitan antara pelarangan TikTok dan kepentingan pemilu, serta menegaskan bahwa langkah tersebut murni demi keselamatan anak-anak.

Kekhawatiran juga datang dari kalangan jurnalis dan aktivis digital. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi menjadi preseden berbahaya yang dapat membuka jalan bagi otoritas media sosial lain di masa depan, terutama di tengah meningkatnya gejolak politik dan aksi protes di Albania.

Di sisi lain, para pengamat teknologi menilai efektivitas larangan tersebut sangat terbatas. Banyak pengguna tetap mengakses TikTok dengan menggunakan jaringan VPN, sebuah fakta yang diakui oleh pemerintah sendiri.

Menurut pengamat digital Brenton Benja, sekitar 1,7 juta pengguna di Albania terus menggunakan TikTok meskipun aplikasi itu diblokir, menunjukkan tantangan besar dalam penerapan larangan digital di era masyarakat yang semakin melek teknologi.

Kasus ini menjadi contoh bagaimana kebijakan keamanan berani dapat berbenturan dengan isu kebebasan berekspresi dan realitas teknologi modern.

Sumber: Reuters.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *