UMKM merupakan salah satu penggerak perekonomian yang memiliki dampak cukup besar. Keberadaan UMKM tentunya tidak bisa dipisahkan dari potensi suatu daerah. Desa Branjang merupakan salah satu desa yang masuk dalam kategori Desa Wisata, desa ini memiliki topografi yang unik sehingga memiliki kekayaan alam yang melimpah. Hal ini menjadi salah satu fondasi keberlangsungan UMKM unggulan yang ada di Desa Branjang, sebagian besar dari produk unggulan ini proses operasionalnya masih dilakukan dengan tahapan sederhana dan kental akan nilai kultural di dalamnya.
Pengolahan dan operasional yang menjadi daya tarik UMKM ini juga harus diimbangi dengan standar pengelolaan produk yang baik seperti sanitasi. Hal tersebut yang akhirnya mendorong Ranggaaseta Kautsar Rizqi, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Branjang, Kecamatan Ungaran Barat, Jawa Tengah untuk melakukan upaya perancangan checklist sanitasi sebagai bagian dari upaya optimalisasi sanitasi proses produksi. Minimnya acuan tertulis yang dapat digunakan oleh pelaku UMKM untuk memantau kebersihan selama proses produksi ini melatarbelakangi mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang tergabung dalam Tim KKN-T IDBU 14 Universitas Diponegoro untuk melakukan pendampingan sanitasi produksi bagi penggerak UMKM.

Program ini menggabungkan pendekatan edukatif mengenai aspek kesehatan untuk membantu UMKM lokal mengenal mengenai implementasi sanitasi yang baik dan terukur. Hal ini sejalan dengan komitmen global dalam mendukung SDGs Poin 3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pencegahan penyakit bersumber makanan (foodborne diseases), serta SDGs Poin 8 yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui optimalisasi potensi alam serta produk unggulan yang ada di Desa Branjang khususnya Dusun Dersuni.
Selama masa penerjunan di lapangan, mahasiswa KKN-T IDBU 14 Undip melakukan observasi terhadap pelaku UMKM di Dusun Dersuni seperti madu klanceng, keripik talas, gula aren, dan sapu ijuk. Hasil dari observasi menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha sudah memiliki kesadaran dalam menjaga kebersihan produksi, tetapi masih perlu dilakukan optimalisasi guna mendorong proses produksi UMKM yang sesuai dengan Good Manufacturing Process (GMP). Banyak dari UMKM masih belum bersertifikasi BPOM sehingga dengan adanya optimalisasi sanitasi produksi yang sesuai dengan GMP dapat setidaknya membantu UMKM untuk lebih siap jika di masa depan akan melakukan pengajuan sertifikasi BPOM. Selain itu, kondisi eksisting di lapangan juga menunjukkan belum tersedianya sebuah panduan baku yang mengakibatkan aspek-aspek penting dalam sanitasi produksi kerap terlewat, terutama pada usaha dalam skala rumah tangga yang dikelola dengan sumber daya terbatas.
Temuan di lapangan yang dilakukan mahasiswa KKN-T IDBU 14 tersebut melatarbelakangi penyusunan checklist atau daftar pedoman sanitasi produksi UMKM yang terdiri dari empat aspek utama, yaitu sanitasi sarana air bersih, sanitasi peralatan dan wadah kerja, sanitasi penyimpanan bahan baku, serta sanitasi fasilitas fisik dan lingkungan produksi. Keempat aspek ini menjadi indikator pengukuran karena menjadi hal utama yang harus diperhatikan UMKM dalam menjaga mutu produksi melalui sanitasi. Kemudian hasil checklist yang telah disusun akan dimasukkan ke dalam Buku Panduan UMKM yang telah disusun oleh Tim KKN-T IDBU 14 Universitas Diponegoro.
Kepala Desa Branjang, Bapak Suherdi, S.E., juga turut memberikan keterangan bahwa banyak pelaku UMKM di sini sebenarnya sudah menjaga kebersihan, tapi pelaksanaannya belum optimal sesuai dengan standar baku yang memiliki indikator terstruktur. Hingga saat ini masih diperlukan panduan dan pendampingan mengenai tata cara menerapkan standar sanitasi yang baik.
Melalui checklist standarisasi sanitasi produksi yang telah disusun, mahasiswa KKN-T IDBU 14 melakukan pendampingan terhadap para pelaku UMKM guna memberikan edukasi terkait bagaimana penerapan sanitasi yang baik sekaligus untuk mengetahui seberapa baik UMKM telah menerapkan aspek sanitasi dalam produksinya hingga saat ini. Checklist ini juga disisipkan ke dalam Buku Panduan UMKM Desa Branjang yang akan diserahkan kepada UMKM sebagai bentuk pedoman dalam jangka panjang bagi para UMKM untuk terus menerapkan sanitasi yang baik dalam produksinya.
Lebih jauh, program kerja ini merupakan salah satu upaya mahasiswa KKN-T IDBU 14 untuk mendukung penguatan kapasitas UMKM di bidang kesehatan dan keamanan pangan, sejalan dengan fokus keilmuan kesehatan masyarakat yang dipelajari di kampus. Sanitasi yang kurang optimal dalam proses produksi tidak hanya berisiko menurunkan kualitas produk, tetapi juga dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi konsumen dan dapat mengakibatkan turunnya kepercayaan konsumen
Harapannya dengan adanya checklist dan buku panduan ini, pelaku UMKM di Desa Branjang khususnya Dusun Dersuni dapat lebih konsisten menerapkan praktik sanitasi yang baik dalam setiap tahap produksi. Setiap langkah yang diambil bukan dinilai dari besar atau kecilnya dampak yang dihasilkan, tetapi seberapa konsisten langkah itu terus dilakukan, selaras dengan hal tersebut pendampingan ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk UMKM lokal, sekaligus memperkuat kepercayaan konsumen terhadap produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Branjang khususnya Dusun Dersuni.
Penulis : Ranggaseta Kautsar Rizqi
Pembimbing : Muhammad Hamdan Mukafi, S.S., M.A








