UMKM merupakan roda penggerak ekonomi bangsa dalam skala terkecil. Dorongan serta inovasi sangat diperlukan bagi para UMKM agar dapat berkembang dan berdaya saing sehingga dapat menghasilkan produk unggulan yang dikenal luas oleh masyarakat. Hal ini yang mendasari Ranggaseta Kautsar Rizqi, mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Branjang, Kecamatan Ungaran Barat, Jawa Tengah untuk menginovasikan suatu program kerja yakni penguatan branding dan promosi UMKM lokal Desa Branjang melalui pembuatan logo dan label kemasan untuk UMKM Keripik Talas Dapur Jemari yang berbasis Health Unique Selling Points Information.

Unique Selling Points (USPs) merupakan satu istilah yang kerap digunakan dalam dunia marketing, yang mengacu kepada poin-poin unik dan menarik dari suatu produk yang dapat digunakan sebagai trik branding dan penjualan agar dapat menggaet lebih banyak konsumen. Dalam konteks yang lebih jauh, USPs ini juga dapat melibatkan aspek-aspek kesehatan mengingat seiring berkembangnya zaman, semakin banyak konsumen yang mulai peduli terhadap kesehatannya sehingga cenderung mencari dan menggunakan produk-produk yang ramah terhadap kesehatan. Hal ini lah yang mendasari mengapa Health Unique Selling Points menjadi salah satu aspek penting dalam inovasi label kemasan bagi UMKM, khususnya di Desa Branjang.
Program ini menggabungkan pendekatan edukatif mengenai nilai-nilai kesehatan yang terkandung dalam produk sekaligus membantu branding UMKM agar dapat menggaet lebih banyak konsumen lagi. Hal ini sejalan dengan komitmen global dalam mendukung SDGs Poin 3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui transparansi informasi gizi dan komposisi produk olahan, serta SDGs Poin 8 yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pemberdayaan UMKM lokal agar naik kelas, meningkatkan nilai jual, dan memperluas jangkauan pasar hingga dapat memperkuat ekonomi desa.
Melalui program kerja ini, mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro yang tergabung ke dalam tim KKN-T IDBU 14 melakukan perancangan logo baru sekaligus label kemasan untuk produk keripik talas milik UMKM Dapur Jemari di Dusun Dersuni, Desa Branjang. Berbeda dari label kemasan pada umumnya yang hanya mencantumkan nama produk, label yang dirancang kali ini turut memuat informasi kesehatan yang selama ini belum tersedia, seperti komposisi bahan, tanggal kadaluarsa (expired date), berat produk (netto), hingga Health Unique Selling Points atau nilai jual kesehatan produk.
“Konsumen sekarang makin peduli sama apa yang mereka makan. Kalau di label cuma ada nama produk tanpa komposisi atau tanggal kedaluwarsa, itu bisa jadi kekurangan tersendiri, apalagi untuk produk pangan seperti keripik talas ini” ujar Rangga, mahasiswa pelaksana program kerja. Pencantuman Health Unique Selling Points, seperti kandungan serat pada talas atau proses penggorengan yang hanya dilakukan 1x, diharapkan dapat menjadi nilai tambah yang membedakan produk ini dari kompetitor di pasaran.
Proses pembuatan logo dan label ini dilakukan melalui diskusi langsung dengan pemilik UMKM untuk memastikan desain yang dihasilkan tetap mencerminkan identitas usaha, sekaligus memenuhi standar informasi yang dibutuhkan konsumen. Perancangan label diawali dengan wawancara terhadap pelaku UMKM guna memastikan proses produksi ataupun bahan baku yang digunakan tetap sejalan dengan nilai-nilai kesehatan sehingga dapat dipetakan Health Unique Selling Point dari produk tersebut. Ketika nilai-nilai informasi telah terkumpul, kemudian disusunlah logo sekaligus label produk yang tetap sesuai dengan citra produk atau target pasar yang hendak dicapai.
Inovasi label kemasan ini disambut dengan baik oleh pelaku UMKM yang berharap agar dapat meningkatkan citra dan penjualan dari produk. Dengan label baru ini, produk keripik talas diharapkan tampil lebih profesional dan siap bersaing di pasar yang lebih luas, termasuk pasar daring.
Penulis : Ranggaseta Kautsar Rizqi
Pembimbing : Muhammad Hamdan Mukafi, S.S., M.A







