Infojatengupdate.com –Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan di kawasan Teluk Arab akibat ditutupnya kembali Selat Hormuz. Situasi ini menjadi perhatian serius mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute pelayaran energi paling vital di dunia.
Pjs. Sekretaris Perusahaan PIS, Vega Pita, menyampaikan bahwa kedua kapal belum dapat melanjutkan perjalanan karena kondisi di Selat Hormuz yang masih belum kondusif. Perkembangan situasi yang sangat dinamis membuat perusahaan harus mengambil langkah hati-hati.
Prioritaskan Keselamatan Awak dan Muatan
Dalam keterangannya, Vega menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama. Tidak hanya awak kapal, tetapi juga keamanan kapal serta muatan yang dibawa menjadi perhatian utama perusahaan.
“PIS terus menyatu secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis di Selat Hormuz,” ujarnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak ingin mengambil risiko di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Koordinasi Intensif dengan Pemerintah
Untuk menghadapi situasi ini, Pertamina melalui PIS terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri dan otoritas terkait lainnya. Hal ini penting untuk memastikan setiap keputusan yang diambil selaras dengan kondisi keamanan dan regulasi internasional.
Baca juga: Istana Klaim Pemerintahan Stabil, Publik Diminta Tetap Kritis pada Data
Selain itu, perusahaan juga telah menyiapkan skenario pelayaran atau rencana perjalanan kapal yang aman jika kondisi memungkinkan kedua melanjutkan perjalanan.
Selat Hormuz Kembali Ditutup

Penutupan Selat Hormuz kembali terjadi setelah sebelumnya sempat dibuka. Berdasarkan laporan internasional, keputusan ini diambil oleh Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
IRGC menyebut bahwa tindakan tersebut merupakan respons terhadap blokade yang dilakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran. Dalam pernyataan resminya, pihak militer Iran bahkan memperingatkan bahwa kapal yang mencoba melintas dapat dianggap sebagai ancaman.
“Mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh,” demikian pernyataan IRGC.
Baca juga: Putra Khamenei Pimpin Iran di Tengah Bayang-Bayang Perang
Jalur Vital Energi Dunia dalam Ancaman
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sebagian besar distribusi minyak dunia. Penutupan jalur ini tidak hanya berdampak pada kapal Pertamina, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.
Kondisi ini berisiko memicu kenaikan harga minyak serta menimbulkan ancaman di pasar energi internasional.
Hingga saat ini, kedua kapal Pertamina masih menunggu perkembangan situasi sebelum dapat melanjutkan pelayaran. PIS berharap kondisi di kawasan tersebut segera membaik agar aktivitas distribusi energi dapat kembali normal.
“Kami berharap kondisi di jalur tersebut segera membaik dan kondusif,” kata Vega.
Kasus tertahannya dua kapal Pertamina ini menjadi bukti nyata bagaimana konflik geopolitik dapat berdampak langsung pada sektor energi dan logistik. Keputusan untuk menahan kapal bukan hanya masalah operasional, tetapi juga langkah-langkah strategis demi keselamatan.
Di tengah situasi global yang tidak diketahui, kewaspadaan dan koordinasi pihak menjadi kunci utama untuk menghadapi risiko yang terus berkembang.
Baca juga: Selat Hormuz Kembali Dibuka, Tapi Ketegangan AS–Iran Masih Membayangi Jalur Perdagangan Global





