Infojatengupdate.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih. Para peserta tersebut diketahui mengembuskan napas terakhir saat mengikuti rangkaian Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil).
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Pertahanan hingga Sabtu (27/6), jumlah korban meninggal dunia dalam pelatihan tersebut telah mencapai lima orang.
Bagi HMI Cabang Semarang, tragedi ini bukan sekadar musibah biasa yang patut disesali. Peristiwa memilukan ini dinilai sebagai alarm keras bahwa konsep pelatihan yang diterapkan saat ini gagal dan perlu dievaluasi secara menyeluruh. Terlebih, pendekatan semi-militer dianggap sama sekali tidak memiliki relevansi langsung dengan tugas pokok seorang manajer koperasi.
Mempertanyakan Urgensi Latihan Fisik Ala Militer
Ketua Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Kepemudaan (PTKP) HMI Cabang Semarang, Andika, mempertanyakan urgensi dan relevansi kurikulum pelatihan tersebut dengan kompetensi yang dibutuhkan di lapangan. Menurutnya, tugas utama manajer koperasi berfokus pada pengelolaan usaha, tata kelola organisasi, keuangan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Kami mempertanyakan mengapa calon manajer koperasi justru diwajibkan mengikuti latihan bergaya militer. Apakah kompetensi mengelola koperasi dibangun melalui latihan fisik ala militer atau melalui penguatan kemampuan manajemen, kepemimpinan, dan kewirausahaan? Tragedi yang telah merenggut lima nyawa ini harus menjadi momentum evaluasi total terhadap kebijakan tersebut,” tegas Andika.
HMI Cabang Semarang menilai, bertambahnya jumlah korban jiwa menunjukkan bahwa pendekatan militer terhadap program yang berorientasi pada pembangunan ekonomi kerakyatan patut dipertanyakan efektivitasnya. Organisasi mahasiswa ini menegaskan bahwa meski disiplin kerja adalah nilai yang penting, hal itu tidak berarti setiap profesi sipil harus dibentuk melalui pola pelatihan kemiliteran.
Desak Evaluasi Independen dan Transparan
Merespons pernyataan Kementerian Pertahanan yang menyebutkan bahwa kelima peserta telah melalui skrining kesehatan dan meninggal karena kondisi medis yang berbeda-beda, HMI mendesak pemerintah tidak berlindung di balik alasan medis semata. Pemerintah diminta melakukan evaluasi independen yang menyentuh akar masalah.
Beberapa poin krusial yang didesak HMI Cabang Semarang untuk segera dievaluasi antara lain:
Desain Pelatihan: Mengkaji ulang relevansi materi latihan dengan output pekerjaan.
Standar Keselamatan & Manajemen Risiko: Memeriksa kesiapan tim medis dan prosedur kedaruratan di lapangan.
Dasar Kebijakan: Meninjau kembali aturan yang mewajibkan Latsarmil sebagai syarat mutlak bagi calon manajer koperasi.
Andika menambahkan, koperasi sebagai instrumen ekonomi rakyat membutuhkan SDM yang unggul dalam kemampuan manajerial, integritas, inovasi, dan pemahaman bisnis. Oleh karena itu, kurikulum ideal seharusnya difokuskan pada:
Penguatan tata kelola koperasi dan literasi keuangan.
Digitalisasi usaha dan penyusunan rencana bisnis (business plan).
Pendampingan lapangan yang substantif.
Tiga Tuntutan Utama HMI Cabang Semarang
Sebagai langkah konkret, HMI Cabang Semarang mengeluarkan pernyataan sikap dan mendesak pemerintah untuk segera:
Penghentian Sementara: Menghentikan seluruh rangkaian Latihan Dasar Kemiliteran bagi calon Manajer Kopdes Merah Putih hingga evaluasi menyeluruh selesai dilakukan.
Usut Transparan: Mengusut tuntas secara terbuka penyebab utama meninggalnya kelima peserta demi memenuhi hak informasi publik.
Pertanggungjawaban Penuh: Memastikan keluarga korban mendapatkan kejelasan informasi serta bentuk pertanggungjawaban yang adil sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Jangan sampai tragedi ini dianggap sebagai risiko biasa dalam sebuah pelatihan. Lima nyawa melayang adalah peristiwa yang terlalu serius untuk hanya dijawab dengan evaluasi administratif. Negara harus memastikan bahwa setiap program pembangunan mengedepankan keselamatan, profesionalisme, dan relevansi dengan tujuan yang ingin dicapai,” pungkas Andika.







