Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu wilayah dengan potensi pertanian yang cukup besar. Bentang alam yang subur dan kondisi iklim yang mendukung membuat berbagai komoditas pertanian dapat tumbuh dengan baik, salah satunya durian. Komoditas ini tidak hanya menjadi hasil pertanian, tetapi juga bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat setempat yang terlibat dalam budidaya hingga perdagangan durian.
Dengan aroma yang khas dan cita rasa manis yang kuat, durian menjadi salah satu komoditas yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan di Kecamatan Doro. Tidak hanya dinikmati sebagai buah segar, durian juga dapat diolah menjadi berbagai produk pangan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Potensi inilah yang kemudian dikembangkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat oleh Program Studi Teknologi Pangan -Universitas Diponegoro, yang diketuai oleh drh. Siti Susanti, Ph.D. Berbekal pengetahuan tentang teknologi pengolahan hasil perkebunan, tim pengabdian menyelenggarakan program pelatihan dan pendampingan pengolahan durian menjadi filler dan flavour untuk berbagai produk roti dan kue. Melalui pengolahan yang tepat, daging buah durian dapat diubah menjadi pasta durian sebagai filling serta bubuk durian (durian powder) sebagai flavoring agent. Inovasi pengolahan tersebut diharapkan dapat memberikan keterampilan baru bagi masyarakat sekaligus membuka peluang diversifikasi usaha berbasis durian dan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Kegiatan pengembangan potensi durian di Kecamatan Doro dilaksanakan melalui dua tahapan utama, yaitu pelatihan dan pendampingan. Pelatihan dikemas dalam bentuk workshop intensif selama tiga hari yang tidak hanya menghadirkan penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk langsung mempraktikkan teknik pengolahan durian. Anggota Kelompok Tani Durian dan Kelompok Wanita Tani (KWT) dibekali pengetahuan mulai dari karakteristik bahan baku, teknik pemrosesan, penerapan filling dan flavor pada produk bakery, hingga aspek mutu dan keamanan pangan.
Suasana pelatihan tidak berhenti pada teori. Peserta terlibat secara langsung dalam setiap tahapan pengolahan, mulai dari memilih buah durian yang akan digunakan, melakukan proses produksi, hingga mengemas produk akhir. Dengan didampingi fasilitator yang berpengalaman, setiap tahapan menjadi ruang bagi peserta untuk belajar sekaligus memahami bagaimana durian yang selama ini dikenal sebagai buah segar dapat diolah menjadi bahan pangan yang lebih beragam dan memiliki nilai tambah.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pasta durian. Daging buah durian diolah hingga menghasilkan tekstur yang halus dan kental sehingga dapat dimanfaatkan sebagai isian pada berbagai produk roti dan kue. Tidak berhenti pada bentuk pasta, peserta juga mempraktikkan pembuatan bubuk flavor durian melalui proses pengeringan dan penggilingan. Dalam bentuk bubuk, durian dapat digunakan secara lebih fleksibel dalam berbagai olahan pangan sekaligus memiliki keunggulan dalam penyimpanan.
Dari bahan dasar tersebut, kreativitas peserta kemudian berkembang ke berbagai produk bakery. Pasta dan flavor durian diaplikasikan dalam pembuatan sponge cake durian dan roti manis durian. Hasilnya menunjukkan bahwa karakteristik khas durian dapat dipadukan dengan produk bakery untuk menghasilkan olahan dengan tekstur lembut dan cita rasa durian yang tetap terasa.
Eksplorasi produk kemudian berlanjut pada pie durian, nastar durian, dan sus durian. Setiap produk menghadirkan karakter yang berbeda. Pie durian memadukan cita rasa khas durian dengan crust yang renyah, sementara nastar durian menawarkan isian durian yang creamy. Adapun sus durian memadukan krim durian dengan tekstur lembut adonan kue. Ragam olahan tersebut memperlihatkan bahwa satu komoditas lokal dapat memiliki banyak kemungkinan ketika diolah dengan teknik dan kreativitas yang tepat.
Proses pengembangan tidak berhenti setelah produk berhasil dibuat. Tahap berikutnya adalah pendampingan untuk membantu peserta menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh secara lebih konsisten. Pendampingan dilakukan melalui konsultasi teknis, penyelesaian kendala selama proses produksi, evaluasi metode, serta penyesuaian proses apabila diperlukan. Selain aspek produksi, peserta juga memperoleh asistensi dalam pengembangan pemasaran, termasuk strategi branding dan distribusi produk.
Rangkaian kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi masyarakat dalam melihat durian bukan sekadar komoditas yang dijual dalam bentuk buah segar, tetapi juga sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi beragam produk pangan. Pasta durian, bubuk flavor durian, sponge cake durian, roti manis durian, pie durian, nastar durian, hingga sus durian menjadi contoh bagaimana satu komoditas lokal dapat diolah menjadi berbagai produk dengan karakter dan bentuk yang berbeda.
Lebih dari sekadar menghasilkan produk, pelatihan dan pendampingan ini membuka ruang bagi masyarakat Kecamatan Doro untuk mengenal peluang baru dalam pengembangan usaha berbasis komoditas lokal. Dengan keterampilan pengolahan, pemahaman mutu, serta pendampingan dalam pemasaran, potensi durian dapat terus dikembangkan menjadi produk yang lebih beragam dan bernilai tambah. Dari buah yang tumbuh di wilayah Doro, lahir berbagai kreasi pangan yang membuka kemungkinan baru bagi pengembangan ekonomi masyarakat setempat.






