Semarang – Suasana berbeda tampak di gedung Wisma Djakfar pada Rabu malam (20/5), ketika Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang semarang menggelar acara Nonton Bareng dan diskusi publik film berjudul “Pesta Babi”. Acara ini bukan sekedar hiburan, melainkan sebuah ruang refleksi kritis yang mengajak masyarakat untuk menelaah pesan-pesan sosial dan budaya yang terkandung dalam film tersebut.
Film “Pesta Babi” sendiri dikenal sarat dengan simbolisme. Hewan babi dalam film ini digambarkan sebagai representasi gaya hidup konsumtif, hedonisme, dan elitisme yang sering mengungkap jurang sosial di tengah masyarakat. Melalui simbol yang provokatif, film ini menantang penonton untuk melihat realitas sosial yang ada di tanah Papu dengan cara yang lebih jujur dan tanpa basa-basi.
Acara nobar ini menampilkan puluhan Kader HMI dan aktivis Papua. Mereka berkumpul dalam suasana santai namun penuh antusiasme. Penggunaan film pemutaran, acara dilanjutkan dengan diskusi publik untuk menyatukan pandangan, Bahwa Papua bukan tanah kosong dan Papua harus merdeka.
Diskusi berlangsung hangat, dengan berbagai perspektif yang muncul mengenai relevansi film terhadap kondisi sosial saat ini.
Baca juga: HMI se-lingkup Korkom Walisongo Adakan Nonton Bareng dan Diskusi Film
Dalam diskusi, beberapa peserta menyoroti bagaimana film “Pesta Babi” mencerminkan praktik korupsi, ketidakpedulian elit terhadap rakyat kecil, serta budaya konsumtif yang semakin mengakar. Seorang peserta, Pablon, menyampaikan bahwa film ini menjadi “tamparan keras” bagi masyarakat yang sering kali menutup mata terhadap ketimpangan sosial.
“Film ini membuka mata kita bahwa pesta yang dinikmati segelintir orang sering kali dibayar dengan penderitaan banyak orang,” ujarnya.
Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Semarang, Andika, menegaskan bahwa tujuan utama acara ini adalah membuka ruang dialog kritis.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menonton film sebagai hiburan, tetapi menjadikannya sebagai media refleksi. Diskusi setelahnya adalah ruang untuk memperkuat kesadaran kolektif dan membangun solidaritas,” tuturnya.
Dengan adanya acara ini, penyelenggara HMI cabang semarang berharap budaya nobar tidak hanya dipandang sebagai kegiatan rekreatif, tetapi juga sebagai gerakan edukatif yang mampu merangsang kesadaran masyarakat. Film “Pesta Babi” menjadi contoh nyata bagaimana karya seni dapat berfungsi sebagai cermin sosial, sekaligus alat kritik yang tajam terhadap kenyataan yang sering kali diabaikan.








