SEMARANG — Kehadiran berbagai kanal digital belum selalu membuat informasi sebuah lembaga menjadi lebih mudah ditemukan. Ketika informasi tersebar melalui media sosial, formulir daring, dan berbagai kanal komunikasi lainnya, masyarakat tetap membutuhkan satu rujukan yang mampu menyajikan informasi secara utuh, terstruktur, dan dapat diakses kembali kapan saja.

Kebutuhan tersebut menjadi salah satu perhatian Lenterahati Islamic Boarding School dalam memperkuat layanan informasinya. Lembaga pendidikan yang menaungi berbagai aktivitas dan jenjang pendidikan ini mulai mengembangkan website baru yang diarahkan menjadi pusat informasi digital bagi calon peserta didik, wali santri, maupun masyarakat umum.

Website tersebut dikembangkan dengan melibatkan Sangkolo sebagai mitra teknologi, yang menerjemahkan kebutuhan Lenterahati ke dalam sebuah sistem digital yang tidak hanya berfungsi sebagai profil lembaga.

Dari pihak Lenterahati, Jundu Muhammad turut terlibat dalam menyampaikan kebutuhan, mengevaluasi struktur informasi, serta memberikan masukan terhadap pengalaman pengguna dan tampilan website. Sementara pengembangan dari sisi Sangkolo ditangani oleh A. Faidhullah Farros Basykailakh, mulai dari perancangan pengalaman pengguna hingga implementasi sistem pengelolaan konten.

Salah satu persoalan yang ingin dijawab melalui pengembangan tersebut adalah bagaimana menghadirkan informasi Lenterahati dalam satu ruang yang lebih mudah dipahami. Media sosial tetap memiliki fungsi penting sebagai sarana publikasi dan komunikasi cepat. Namun, karakter media sosial yang bergerak berdasarkan unggahan membuat informasi tertentu dapat tertumpuk oleh konten yang lebih baru.

Website kemudian ditempatkan sebagai rujukan yang lebih permanen. Informasi mengenai profil lembaga, jenjang pendidikan, program, kegiatan, berita, galeri, struktur organisasi, penerimaan peserta didik hingga kontak dapat ditata berdasarkan kebutuhan pengunjung.

Dengan pendekatan tersebut, seseorang yang baru mengenal Lenterahati tidak harus terlebih dahulu menelusuri banyak unggahan untuk memahami lembaga maupun program pendidikan yang tersedia. Calon wali santri, misalnya, dapat mengakses informasi pendidikan dan penerimaan peserta didik melalui satu pintu sebelum menghubungi pihak Lenterahati untuk kebutuhan yang lebih spesifik.

Pengembangan ini juga tidak berhenti pada halaman yang terlihat oleh masyarakat. Salah satu bagian penting justru berada pada sistem pengelolaan di balik website.

Tim internal Lenterahati disiapkan agar dapat memperbarui berbagai informasi secara mandiri. Artikel, galeri, informasi penerimaan peserta didik, profil jenjang pendidikan, struktur organisasi, hingga sejumlah informasi publik lainnya dapat dikelola melalui ruang administrasi yang telah disediakan.

Pada pengelolaan berita, misalnya, sistem tidak hanya menyediakan fasilitas untuk menulis dan menerbitkan artikel. Terdapat alur pengelolaan konten mulai dari penyusunan, pengajuan, peninjauan, revisi hingga publikasi. Mekanisme tersebut dirancang agar website dapat menjadi kanal informasi yang terus hidup mengikuti aktivitas lembaga, bukan sekadar halaman profil yang jarang diperbarui.

Pendekatan itu sekaligus menjadi titik temu antara kebutuhan Lenterahati dan peran Sangkolo sebagai mitra teknologi. Lenterahati membawa pemahaman mengenai karakter lembaga, kebutuhan masyarakat, hingga informasi yang perlu disampaikan. Sangkolo kemudian menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam arsitektur informasi dan sistem yang dapat digunakan dalam operasional sehari-hari.

Proses pengembangan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan evaluasi dari pihak Lenterahati. Struktur halaman, penyajian informasi dan tampilan antarmuka terus disesuaikan berdasarkan masukan yang diberikan selama pengembangan. Salah satu versi tampilan yang dikembangkan juga mendapat respons positif karena dinilai lebih sederhana dan tidak terlalu ramai.

Pertemuan langsung antara Jundu Muhammad dan A. Faidhullah Farros Basykailakh di Semarang turut menjadi ruang untuk melihat perkembangan sistem sekaligus menyelaraskan kembali kebutuhan lembaga dengan implementasi teknis yang sedang dikerjakan.

Transformasi digital pada akhirnya bukan sekadar persoalan memiliki website baru. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana teknologi dapat membuat informasi lebih mudah ditemukan masyarakat dan tetap mudah dikelola oleh lembaga setelah proses pengembangan selesai.

Bagi Lenterahati, website tersebut diarahkan menjadi satu pintu informasi resmi yang melengkapi keberadaan kanal digital lainnya. Media sosial dapat terus digunakan untuk menjangkau masyarakat melalui berbagai aktivitas dan publikasi, sementara website menyediakan informasi yang lebih lengkap dan terstruktur bagi mereka yang ingin mengenal Lenterahati lebih jauh.

Pengembangan ini menjadi contoh bagaimana kebutuhan komunikasi sebuah lembaga pendidikan dapat diterjemahkan menjadi solusi digital yang lebih fungsional. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, website bukan hanya menjadi representasi Lenterahati di ruang digital, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Cara Cek Hasil Kelulusan SNBP 2025 yang Diumumkan Hari Ini

infojatengupdate.com – Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) akan mengumumkan hasil…

KPU Akui Tingkat Partisipasi Pilkada 2024 Tak Setinggi Pilpres dan Pileg

Pada tahun 2024, Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam hal partisipasi pemilih di…

Sritex PHK 8.400 Karyawan, Pemerintah Pastikan Hak Buruh Terjamin

infojatengupdate.com – Kurator Pengadilan Niaga telah memutuskan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap…

Tukar Uang Baru 2025 di PINTAR BI, Cek Cara dan Jadwal Lengkapnya

infojatengupdate.com – Situs resmi Bank Indonesia, PINTAR BI, kini telah dibuka untuk…