Mahasiswa Telkom University Purwokerto Kembangkan ETICO, Inovasi Penyerap Etilen Berbasis Tempurung Kelapa untuk Tekan Food Loss Pisang
PURWOKERTO — Persoalan pematangan pisang yang berlangsung relatif cepat menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kualitas komoditas hortikultura, khususnya pada tahap penyimpanan dan distribusi. Kondisi tersebut dapat mempercepat penurunan mutu buah dan meningkatkan risiko food loss apabila tidak diimbangi dengan penanganan pascapanen yang tepat.
Melihat persoalan tersebut, sekelompok mahasiswa Telkom University Purwokerto mengembangkan ETICO (Ethylene Absorber), sebuah inovasi pascapanen yang dirancang untuk membantu mengendalikan proses pematangan pisang melalui teknologi penyerap etilen.

ETICO dikembangkan menggunakan arang berbahan dasar tempurung kelapa yang dipadukan dengan kalium permanganat (KMnO₄). Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mengendalikan keberadaan gas etilen yang secara alami dihasilkan buah selama proses pematangan.
Inovasi ini tidak hanya berorientasi pada upaya mempertahankan kualitas pisang selama penyimpanan dan distribusi, tetapi juga mengangkat potensi sumber daya lokal. Tim memanfaatkan tempurung kelapa sebagai bahan baku yang memiliki peluang untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.
Pemilihan tempurung kelapa tidak terlepas dari potensi wilayah Banyumas, khususnya Desa Pernasidi. Ketersediaan limbah tempurung kelapa yang berasal dari aktivitas industri berbasis kelapa menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan ETICO.
Melalui pendekatan tersebut, tim berupaya menghubungkan persoalan pascapanen dengan pemanfaatan limbah agroindustri. Tempurung kelapa yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diolah menjadi bagian dari inovasi yang memiliki nilai guna sekaligus membawa aspek keberlanjutan.
ETICO dirancang untuk dapat diterapkan dalam rantai pasok pisang, mulai dari tingkat petani dan pengepul hingga pedagang, distributor, maupun pengelola gudang pascapanen. Penggunaan teknologi tersebut diharapkan dapat membantu mempertahankan kualitas buah sehingga memiliki waktu yang lebih optimal untuk didistribusikan dan dipasarkan.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Pengembangan ETICO melibatkan mahasiswa dari sejumlah bidang keilmuan di Telkom University Purwokerto. Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi salah satu kekuatan tim dalam mengembangkan inovasi, karena setiap anggota memiliki tanggung jawab pada aspek bisnis, keuangan, pemasaran, pengembangan produk, hingga teknologi pangan.
Tim ETICO dipimpin Gilang Risqi Maulana, mahasiswa Program Studi S1 Bisnis Digital, yang bertugas sebagai Chief Executive Officer (CEO). Gilang berperan dalam mengoordinasikan tim, menyusun strategi pengembangan usaha, serta memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai dengan target.
Aspek keuangan ditangani Ika Wida Nuragustin, mahasiswa S1 Sains Data, sebagai Chief Financial Officer (CFO). Sementara strategi pemasaran dan publikasi menjadi tanggung jawab Afifah Faiqatuzzahra, mahasiswa S1 Sains Data, yang menjalankan peran sebagai Chief Marketing Officer (CMO).
Pada pengembangan produk, Cindy Mariam Sumitra, mahasiswa S1 Teknik Biomedis, bertugas sebagai Chief Product Officer (CPO). Adapun aspek teknis dan pengembangan teknologi produk dikelola Judika Syahputra Sihombing, mahasiswa S1 Teknologi Pangan, sebagai Chief Technology Officer (CTO).
Dalam proses pengembangannya, tim ETICO juga memperoleh pendampingan dari Ajeng Dyah Kurniawati, S.TP., M.Sc. selaku dosen pendamping. Pendampingan tersebut mencakup penyusunan program, penyempurnaan konsep inovasi, hingga pengembangan produk agar ETICO dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan pendekatan multidisiplin dalam pengembangan inovasi mahasiswa. Kompetensi bisnis, sains data, teknik biomedis, dan teknologi pangan dipadukan untuk menghasilkan solusi yang tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga mempertimbangkan aspek penerapan dan keberlanjutan.
Dorong Pengurangan Kehilangan Pascapanen
Bagi tim ETICO, inovasi ini tidak sekadar menghadirkan produk penyerap etilen, tetapi juga menawarkan pendekatan untuk menjawab persoalan kehilangan hasil pertanian melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Pemanfaatan tempurung kelapa memberikan nilai tambah terhadap limbah agroindustri. Di sisi lain, upaya membantu mengendalikan proses pematangan pisang diharapkan dapat memperpanjang kesempatan buah untuk disimpan, didistribusikan, dan dipasarkan sebelum mengalami penurunan kualitas.
Dampak yang diharapkan tidak hanya berkaitan dengan kualitas buah, tetapi juga efisiensi rantai pasok. Masa simpan yang lebih panjang berpotensi memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha untuk mengatur distribusi dan pemasaran hasil panen sehingga risiko kerugian pascapanen dapat ditekan.
Pengembangan ETICO juga memiliki keterkaitan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi tersebut mendukung SDGs Tujuan 2: Zero Hunger melalui upaya mengurangi kehilangan hasil pertanian setelah panen serta mendukung efisiensi pemanfaatan pangan.
Selain itu, ETICO sejalan dengan SDGs Tujuan 12: Responsible Consumption and Production melalui pemanfaatan tempurung kelapa sebagai bahan baku bernilai tambah sekaligus upaya mengurangi potensi limbah pangan akibat kerusakan buah selama proses penyimpanan dan distribusi.
Dengan menggabungkan inovasi teknologi, kolaborasi lintas disiplin, dan pemanfaatan potensi lokal, tim ETICO berharap produknya dapat berkembang sebagai salah satu alternatif solusi dalam penanganan pascapanen pisang.
Lebih jauh, ETICO diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pengurangan food loss, peningkatan nilai guna limbah agroindustri, serta mendorong terciptanya rantai pasok hasil pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.








