Semarang – Kamis (26/08/2026), Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang selama ini dikenal sebagai tanaman yang dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari mulai dilirik sebagai bahan dasar produk olahan bernilai tambah. Melalui kegiatan Sosialisasi dan Demonstrasi Pembuatan Serbasari, tim PPK Ormawa BEM FK UNNES mengajak masyarakat Kelurahan Sumurrejo untuk mengenal lebih jauh potensi pengolahan hasil TOGA menjadi produk herbal yang praktis dan berpeluang untuk dikembangkan.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal Serbasari sekaligus memahami lebih jauh bagaimana hasil Taman TOGA dapat dimanfaatkan. Tim PPK Ormawa BEM FK UNNES memperkenalkan Serbasari sebagai salah satu produk olahan yang dikembangkan dengan memanfaatkan bahan lokal, yaitu jahe emprit, air kelapa, dan gula aren sebagai bahan utama.
Pengenalan Serbasari tidak berhenti pada produk yang telah dihasilkan. Masyarakat juga diajak melihat bahwa hasil tanaman yang tersedia di lingkungan sekitar dapat diolah menjadi produk yang lebih praktis sekaligus memiliki nilai tambah. Dengan cara tersebut, pemanfaatan TOGA tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga dapat dikembangkan melalui pengolahan menjadi produk herbal.
Penyampaian materi tidak hanya berfokus pada pengenalan produk, tetapi juga memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai potensi pengembangan Serbasari Hasil tanaman dan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dapat diolah terlebih dahulu sehingga menghasilkan produk yang lebih praktis sekaligus memiliki nilai tambah. Konsep tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendorong masyarakat agar tidak hanya memanfaatkan hasil TOGA secara langsung, tetapi juga mulai melihat peluang pengolahannya sebagai produk yang dapat dikembangkan.
Antusiasme masyarakat terlihat ketika sesi sosialisasi berkembang menjadi diskusi bersama. Berbagai pertanyaan mengenai Serbasari dan proses pengolahannya disampaikan oleh peserta. Interaksi tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menggali lebih jauh mengenai cara memanfaatkan bahan-bahan lokal yang tersedia di sekitar mereka.
Ketertarikan tersebut kemudian berlanjut dalam demonstrasi pembuatan Serbasari yang dipandu oleh tim Glycos-Ment. Tahapan pengolahan diperlihatkan secara langsung, bahkan beberapa peserta turut membantu selama proses berlangsung. Dari proses tersebut, masyarakat dapat melihat bahwa bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat diolah menjadi minuman herbal yang lebih praktis.
Bagi masyarakat, pengalaman tersebut memberikan gambaran baru mengenai cara memanfaatkan tanaman yang ada di lingkungan sekitar. Maratus Shalihah mengapresiasi pelatihan Serbasari yang diberikan oleh PPK Ormawa BEM FK UNNES. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam mengenalkan pemanfaatan bahan dari Taman TOGA sebagai minuman kesehatan.
“Terima kasih kepada sahabat-sahabat Ormawa yang kali ini memberikan pelatihan Serbasari. Ini sangat bermanfaat bagi kesehatan untuk menekan penyakit diabetes di Kelurahan Sumurrejo,” ujar Maratus.
Serbasari kemudian menjadi salah satu bentuk upaya tim PPK Ormawa BEM FK UNNES bersama masyarakat dalam mengoptimalkan hasil Taman TOGA. Tidak hanya diolah menjadi minuman herbal, Serbasari juga dikembangkan sebagai produk yang memiliki nilai jual. Hasil dari penjualan Serbasari nantinya akan dikembalikan untuk mendukung kegiatan skrining kesehatan bagi masyarakat Kelurahan Sumurrejo, sehingga manfaat yang dihasilkan dari Taman TOGA dapat kembali dirasakan oleh warga.
Melalui kegiatan ini, PPK Ormawa BEM FK UNNES berharap masyarakat Kelurahan Sumurrejo semakin memahami bahwa Taman TOGA memiliki manfaat yang lebih luas. Pengolahan menjadi Serbasari menjadi salah satu contoh bahwa bahan lokal dapat dikembangkan menjadi produk herbal yang inovatif, sekaligus mendorong masyarakat untuk semakin aktif menanam dan memanfaatkan TOGA di lingkungan mereka








