Infojatengupdate.com – Kenaikan harga kedelai impor mulai dirasakan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Meski begitu, Dinas Perdagangan setempat memastikan stok masih aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan hasil pantauan di sejumlah pasar tradisional, harga kedelai impor saat ini mencapai Rp12.000 per kilogram. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan beberapa hari sebelumnya yang berada di kisaran Rp11.500 per kilogram.
Harga Naik, Tapi Stok Tetap Aman di Kudus
Kepala Bidang Fasilitasi Perdagangan, Promosi, dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Sonhaji, menyampaikan bahwa kenaikan harga sudah terjadi sejak pasca Lebaran 2026.
Meski harga tidak diputar, masyarakat diminta tidak khawatir. Pasalnya, stok kedelai di tingkat pedagang grosir masih tersedia cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Ia juga menyebutkan bahwa harga di tingkat agen atau koperasi kemungkinannya lebih rendah dibandingkan harga eceran di pasar tradisional.
Manajer Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus, Amar Ma’ruf, membenarkan bahwa harga kedelai impor di tingkat koperasi saat ini berada di kisaran Rp10.500 per kilogram.
Namun, ia menegaskan bahwa ketersediaan stok tidak mengalami kendala. Saat ini, stok di gudang koperasi mencapai sekitar 60 ton dan masih dapat ditambah sesuai kebutuhan.
“Berapapun kebutuhan konsumen siap terpenuhi,” ujarnya.
Dampak Global Ikut Mendorong Harga
Kenaikan harga kedelai impor ini tidak lepas dari faktor global. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut mempengaruhi biaya transportasi komoditas impor.
Dampaknya, harga kedelai sebagai bahan baku utama produksi tahu dan tempe ikut terdongkrak. Fluktuasi harga ini juga membuat pelaku usaha harus lebih berhati-hati dalam mengelola stok.
Menariknya, meskipun harga kedelai naik, para pengusaha tahu di Kudus belum berani menaikkan harga jual produknya. Mereka khawatir jika harga sama, pelanggan akan beralih ke penjual lain.
Saat ini, tahu ukuran sedang masih dijual sekitar Rp1.000 per buah, sedangkan ukuran besar sekitar Rp1.200 per buah. Untuk tahu cetakan per papan, harganya berada di kisaran Rp35.000.
Meski harga per papan sama, ukuran potongan bisa berbeda sesuai permintaan pembeli, sehingga harga di tingkat konsumen bisa bervariasi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku usaha masih berusaha menjaga daya beli masyarakat. Alih-alih menaikkan harga, sebagian memilih menyesuaikan ukuran atau efisiensi produksi.
Langkah ini menjadi strategi untuk mempertahankan pelanggan di tengah situasi harga bahan baku yang tidak stabil.
Kenaikan harga kedelai impor di Kudus menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pelaku usaha tahu dan tempe. Namun, dengan stok yang masih aman dan strategi penyesuaian di tingkat produsen, dampaknya terhadap konsumen masih bisa ditekan.
Ke depan, stabilitas harga sangat bergantung pada kondisi global serta lancarnya distribusi komoditas impor.





