Infojatengupdate.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa pagi tercatat melemah 11 poin atau sekitar 0,07 persen ke level Rp17.405 per dolar AS. Angka ini turun dibandingkan penutupan sebelumnya pada posisi Rp17.394 per dolar AS.
Rupiah Melemah terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman (safe haven ).
Rupiah Melemah Dipicu Eskalasi Timur Tengah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut tekanan terhadap Rupiah Melemah berasal dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin memanas.
“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat, merespons eskalasi di Timteng,” ujarnya.
Laporan yang beredar menyebutkan adanya serangan terhadap Uni Emirat Arab (UEA), termasuk kejadian kebakaran di zona minyak Fujairah akibat serangan drone. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan.
Namun, pihak Iran membantah terlibat dalam serangan tersebut dan menyatakan tidak memiliki rencana untuk menyerang UEA.
Ketegangan AS-Iran Memanas
Di sisi lain, situasi semakin kompleks dengan keterlibatan Amerika Serikat. Dilaporkan, AS menenggelamkan sejumlah kapal Iran sebagai bagian dari operasi “Project Freedom” yang bertujuan mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengerahkan kekuatan besar dalam operasi ini, termasuk perusak, lebih dari 100 pesawat, sistem nirawak, serta sekitar 15.000 personel militer.
Sementara itu, media Iran melaporkan bahwa militernya telah menembakkan rudal ke arah kapal perang AS untuk mencegah pelintasan di wilayah tersebut.
Investor Tunggu Data Ekonomi
Meski tekanan eksternal cukup kuat, pelemahan rupiah diperkirakan masih terbatas. Investor saat ini cenderung merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia untuk kuartal I 2026.
Data tersebut akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah pergerakan rupiah selanjutnya.
Dengan berbagai sentimen yang ada, rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp17.350 hingga Rp17.450 per dolar AS dalam waktu dekat.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase wait and see, terutama terhadap perkembangan geopolitik global dan data ekonomi domestik.
Pelemahan rupiah kali ini tidak lepas dari tekanan eksternal, khususnya konflik di Timur Tengah yang memicu penguatan dolar AS.
Namun, faktor domestik seperti rilis data PDB berpotensi menjadi pembatasan tekanan, sehingga pergerakan rupiah diperkirakan masih dalam batas terkendali.








